Jumat, 18 Mei 2012

makalah pendidikan islam pada masa kolonial


BAB I
PENDAHULUAN
1.1            LATAR BELAKANG
Meneliti sejarah bangsa Indonesia tidak akan lepas dari umat islam, baik dari perjuangan melawan penjajah maupun dalam lapangan pendidikan. Melihat kenyataan betapa bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam mencapai keberhasilan dengan berjuang secara tulus ikhlas mengabdikan diri untuk kepentingan agamanya disamping mengadakan perlawanan militer.

Perlu diketahui bahwa sejarah pendidikan islam di Indonesia mencakup fakta-fakta atau kejadian –kejadian yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam di Indonesia, baik formal maupun non formal. Yang dikaji melalui pendekatan metode oleh sebab itu pada setiap disiplin ilmu jelas membutuhkan pendekatan metode yang bisa memberikan motivasi dan mengaktualisasikan serta memfungsikan semua kemampuan kejiwaan yang material, naluriah, dengan ditunjang kemampuan jasmaniah, sehingga benar-benar akan mendapatkan apa yang telah diharapkan.
1.2    RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pendidikan islam pada masa penjajahan belanda?
Bagaimana pendidikan islam pada masa penjajahan jepang?

1.3            TUJUAN PEMBAHASAN
Mengetahui pendidikan islam pada masa belanda
Mengetahui pendidikan islam pada masa jepang







BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pendidikan Islam pada masa penjajahan Belanda
Kehadiran belanda di Indonesia tidak hanya mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, tetapi juga menekan politik dan kehidupan keagamaan rakyat. Segala aktivitas umat islam yang berkaitan dengan keagamaan ditekan. Belanda terus menerapkan langkah-langkah yang membatasi gerak pengamalan agama islam. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan secara terbuka dilarang, ibadah haji dibatasi dan setiap jama’ah haji yang pulang ke indonesia diawasi dengan ketat untuk mengantisipasi pengaruh muslim yang telah haji yang dapat membangkitkan semangat perlawanan pemerintah Belanda[1].
Politik yang dijalankan pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasari oleh adanya ras ketakutan, rasa panggilan agamnya yaitu kristen dan rasa kolonialismenya. Dengan begitu, mereka menerapkan berbgai peraturan dan kebijakan, di antarnya :
a.       Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan islam yang mereka sebut Prieserraden. Dari nasihat badan inilah, pad tahun 1905, pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya menyatakan bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agma islam harus terlebih dahulu meminta izin kepada pemerintah Belanda.
b.      Tahun 1925 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan agama islam, yaitu tidak semua orang (kiai) boleh memberikan pengajaran mengaji, terkecuali telah mendapatkan semacam rekomendasi atau persetujuan pemerintah Belanda.
c.       Tahun 1932 keluar lagi peratuaran yang isinya berupa kewenagan untuk memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang disebut ordonansi sekolah liar.[2]
1.      Pendidikan islam sebelum tahun 1900
Pendidikan pada masa ini bercirikan sebagai berikut :
-          Dilakukan secara perorangan, melalui rumah tangga, maupun surau atau mesjid
-          Lebih menekankan ilmu praktis, seperti tentang ketuhanan dan peribadahan
-          Pelajaran diberikan satu demi satu
-          Pelajaran ilmu sharaf didahulukan ketimbang ilmu nahwu
-          Buku pelajaran pada umumnya dikarang oleh ulama Indonesia, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa setempat
-          Kitab yang digunakab umumnya ditulis tangan
-          Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja.
-          Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit.
-          Belum lahir aliran baru dalam islam

2.      Pendidikan islam pada tahun 1900-1908
Masa ini disebut juga periode peralihan, dengan bercirikan hal-hal sebagai berikut :
-          Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secar sekaligus
-          Pelajaran ilmu nahwu didahulukan atau disamakan dengan ilmu sharaf
-          Semua buku pelajaran merupakan karangan ulama kuno dalam bahasa arab
-          Semua buku dicetak
-          Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku: renadah, menengah dan tinggi
-          Telah ada toko buku yang memesan buku-buku dari mesir dan mekah
-          Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan
-          Aliran baru islam seperti yang dibawa oleh majalah al-manar di mesir mulai lahir
3.      pendidikan islam sesudah tahun 1909
pada masa ini gaung isu nasionalisme merambah berkat tampilnya Budi utomo. Sistem madrasah baru dikenal pada permulaan abad ke 20. Sistem ini membawa pembaharuan, antara lain :
1.       perubahan sistem pengajaran dari perseorangan atau sorogan menjadi klasikal
2.      pengajaran pengetahuan umum disamping pengatuhan agama dan bahasa arab.[3]

2.      Pendidikan Islam pada masa penjajahan Jepang
Pendidikan islam zaman penjajahan jepang dimulai pada tahun 1942-1945, sebab bukan hanya belanda saja yang mencoba berkuasa di Indonesia.
Dalam perang pasifik (perang dunia ke II), jepang memenangkan peperangan pada tahun 1942 berhasil merebut indonesia dari kekuasaan belanda. Perpindahan kekuasaan ini terjadi ketika kolonial belanda menyerah tanpa sayarat kepada sekutu.Penjajahan jepang di indonesia mempunyai konsep hokko ichiu (kemakmuran bersama asia raya) dengan semboyan asaia untuk asia. Jepang mengumumkan rencana mendirikan lingkungan kemakmuran bersama asia timur raya pada tahun 1940. Jepang akan menjadi pusat lingkungan pengaruh atas delapan daerah yakni: manchuria, daratan cina, kepuluan muangtai, malaysia, indonesia, dan asia rusia. Lingkungan kemakmuran ini disebut dengan hakko I chi-u (delapan benang dibawah satu atap).
Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat, Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pendudukan Jepang sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperangan pasifik.
Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
1. Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda
2.Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.

Sementara itu terhadap pendidikan Islam, Jepang mengambil beberapa kebijakan antara lain:
1. Mengubah Kantoor Voor Islamistische Zaken pada masa Belanda yang dipimpin kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin tokoh Islam sendiri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari.
2.  Pondok pesantren sering mendapat kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang;
3.  Mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar seni kemiliteran bagi pemuda Islam di bawah pimpinan K.H. Zainal Arifin.
4.   Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta di bawah asuhan K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.
5.  Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang belakangan menjadi cikal-bakal TNI di zaman kemerdekaan
6.  Diizinkannya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun kemudian dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, Muhammadiyah dan NU. Lepas dari tujuan semula Jepang memfasilitasi berbagai aktivitas kaum muslimin ketika itu, nyatanya hal ini membantu perkembangan Islam dan keadaan umatnya setelah tercapainya kemerdekaan.
Kepercayaan jepang ini dimanfaatkan juga oleh umat islam untuk bagkit memberontak melawan jepang sendiri. Pada tanggal 8 juli 1945 berdirilah sekolah tinggi islam di Jakarta. Kalau ditinjau dari segi pendidikan zaman jepang umat islam mempunya kesempatan yang banyak untuk memajukan pendidikan islam, sehingga tanpa disadari oleh jepang sendiri bahwa umat islam sudah cukup mempunyai potensi untuk maju dalam bidang pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah. Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
(1) Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko atau Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
 (2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
(3) Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
 (4) Pendidikan Tinggi.
Disini beberapa tujauan pendidikan islam ketika zaman penjajahan antara lain:
a.       azaz tujuan muhamadiyah: mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya dan azaz perjuangan dakwah islamiyyah dan amar ma’ruf nahi Munkar
b.      INS(Indonesische Nadelanshe School) dipelopori oleh Muhammad syafi’i )1899-1969) bertuan memdidik anak untuk berpikir rasional, mendidik anak agar bekerja sungguh-sungguh, membentuk manusia yang berwatak dan menanam persatuan.
c.       Tujuan Nahdlatul Ulama’, sebelum menjadi partai politik memgang teguh mahzab empat, disamping mejadi kemaslahatan umat Islam itu sendiri.



















BAB III
PENUTUP
1.     Kesimpulan
 Kehadiran Belanda di Indonesia tidak hanya mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, tetapi juga menekan politik dan kehidupan keagamaan rakyat. Segala aktivitas umat Islam yang berkaitan dengan keagamaan ditekan. Belanda terus menerapkan langkah-langkah yang membatasi gerak pengamalan agama Islam. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan secara terbuka dilarang, pengajaran ilmu agama diawasi, ibadah haji dibatasi dan setiap jama’ah haji yang pulang ke Indonesia diawasi dengan ketat untuk mengantisipasi pengaruh muslim yang telah haji yang dapat membangkitkan semangat perlawanan pemerintah Belanda.
    Pada masa Jepang tujuan pendidikan Islam yang pertama adalah menanamkan rasa keislaman yang benar guna kepentingan dunia dan Akhirat, dan yang kedua membelah bangsa dan tanah air untuk memdapatkan kemerdekaan bangsa itu sendiri ataupun kemerdekaan secara manusiawi. Sedangkan maksud dari pemerintahan Jepang ialah supaya kekuatan umat Islam dan nasionalis dapat dibina untuk kepentingan perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang. Jepang membentuk badan-badan pertahanan rakyat seperti Haihoo, Peta, Keibondan sehingga penderitaan rakyat lahir dan batin makin tak tertahankan lagi.

          2. Daftar Pustaka
http://lena-unindrabioza.blogspot.com/2008/03/pendidikan-zaman-penjajahan.html
Mansur,rekonstruksi sejarah pendidikan islam di Indonesia (Jakarta: DEPARTEMEN AGAMA RI, 2005)
K Rukiati. Enung, sejarah pendidikan islam di Indonesia (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2006)





[1] Mansur, rekonstruksi sejarah pendidikan islam di Indonesia, Depag RI, Jakarta,2005,hlm.50.
[2] K rukiati. Enung ,sejarah pendidikan islam, cv pustaka setia, Bandung,2006,hlm.57.
[3] K rukiati. Enung, sejarah pendidikan islam di indonesia,cv pustaka setia, Bandung, 2006,hlm.60.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar